Selasa, 25 Oktober 2016

TUGAS KELOMPOK (PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI) UNIV.Esa Unggul

Makalah  (Khalayak)  Massa
PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

bujp8HWv.png


Disusun Oleh:
Stella Yosi (2016
Nomo Prasetyo (2016
Rimon Agustamas (20160501049)
Dosen : FAJARINA

Universitas Esa Unggul
2016
DAFTAR ISI
Halaman Judul                                                                                          1
Daftar Isi                                                                                                   2
Kata Pengantar                                                                                          3
Bab I Pendahuluan
1.1     Latar Belakang                                                                                4
1.2     Rumusan Masalah                                                                           6
1.3     Tujuan Penulisan                                                                             6
1.4     Manfaat Penulisan                                                                           6

Bab II Pembahasan                             
2.1     Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak                           7
2.2     Jenis – jenis Khalayak                                                                   10
2.3     Khalayak Media                                                                            11
2.4     Aktivitas dan Selektivitas                                                             12

Bab III Penutup
3.1     Kesimpulan                                                                                   16
Daftar Pustaka                                                                                         17


KATA PENGANTAR

           Pertama kami panjatkan puji syukur atas rahmat dan ridho Allah SWT, karena tanpa rahmat dan ridho-Nya, kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat waktu. Kedua, Sholawat serta salam sejahtera senantiasa kami curahkan keharibaan baginda Nabi Muhammad SAW. Karena dengan perantara beliaulah kita kemudian dikenalkan dengan ilmu pengetahuan.
Sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT.
Tugas pembuatan makalah yang berjudul “Audience Komunikasi Massa” yang diberikan oleh dosen pengampu selaku fasilitator yang memfasilitasi kegiatan perkuliahan mahasiswa, diorientasikan sebagai pembangun ilmu pengetahuan dan pemberdayaan mahasiswa untuk mengkaji lebih detailnya tentang Komunikasi Massa utamanya Khalayak pada Media Massa dan apa apa yang terkandung di dalamnya.
Mungkin cukup sekian pengantar dari kami dan kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan perlunya kritik dan saran yang membangun supaya kami bisa lebih baik kemudian nya, apabila ada kesalahan peyampaian atau penulisan mohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan juga bisa di jadikan referensi kajian studi dalam bidang ini. Jazakumullahu khoiron katsiro

Bekasi, 25/10/2016
                                                                                              Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Sebagai basis masyarakat (the basis of society) (De Fleur dan Rokeach 1982, 117; Rivers, Jensen dan Peterson 2003, 33), dalam kenyataan proses komunikasi antarmanusia itu terjadi dalam beberapa konteks atau level (Lihat, Infante, Rancer dan Womack 1990, 124-127; Littlejohn 2005, 11. Satu di antara level dan termasuk yang paling kompleks (lihat, De Fleur & Rokeach 1982, 8), sehubungan dalam prosesnya tercakup banyak aspek interpersonal, kelompok, publik dan komunikasi organisasi, yaitu level mass (massa).
Dalam aplikasinya, berlangsungnya komunikasi dalam konteks massa tersebut dilakukan dengan atau tanpa media. Namun, seperti dikatakan Littlejohn, biasanya ini dilakukan dengan memanfaatkan media. Terkait dengan pemanfaatannya, maka ada yang melalui media elektronik (televisi,radio), cetak (press, misal surat kabar,majalah) dan belakangan ada yang melalui media on line.
Dari sejumlah komponen itu, diketahui bahwa komponen audience diidentifikasi sebagai salah satu komponen (baca : variabel yang mempengaruhi enkoding media) utama yang sangat rumit dalam sistem sosial komunikasi massa. Kerumitan mana, berdasarkan studi bertahun-tahun para ilmuwan sosial, itu karena khalayak sifatnya yang berjenjang, berbeda-beda dan saling berkaitan melalui banyak cara. Terkait dengan ini, dijelaskan oleh De Fleur & Rokeach (1982, 174) bahwa, “Beberapa variabel utama yang berperan dalam menentukan bagaimana komponen ini beroperasi dalam sistem ini adalah kebutuhan utama dan kepentingan angota khalayak, ragam kategori-kategori sosial yang direpresentasikan dalam khalayak, dan karakteristik hubungan sosial antara khalayak. Variabel ini menunjukkan mekanisme perilaku yang menentukan pola perhatian, penafsiran, dan respon khalayak berkaitan isi dari jenis tertentu”.
Dalam konteks hubungan sebagaimana dipaparkan barusan, para akademisi sendiri sebenarnya telah berupaya menjelaskan fenomenanya secara ilmiah. Dari hasil-hasil studi para akademisi, maka dibuatlah sejumlah model yang menjelaskan hubungan tadi. Dari model-model yang dihasilkan telah memunculkan sejumlah teori yang dikelompokkan ke dalam the audience theory. Audience theory atau teori tentang khalayak sendiri yaitu suatu teori yang mencoba menjelaskan bagaimana seorang khalayak menerima, membaca dan merespon sebuah teks.
Lalu kenapa khalayak bisa aktif? Pertanyaan itu coba dijawab oleh Wilbur Schramm yang menyatakan seseorang membuat pilihan media dan kontennya berdasarkan pengharapan atas imbalan terhadap usaha yang dibutuhkan. Artinya penonton (khalayak) yang menentukan tayangan apa yang hendak ia saksikan. Tidak seperti era terdahulu yang ingin mempelajari macam-macam efek media baik positif dan negatif, uses and gratification ingin mempelajarai aktivitas khalayak. Pendekatan ini ingin mengetahui kenapa banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu dalam menggunakan media massa.




~ 1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa itu Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak ?
2. Apa Jenis – jenis Khalayak ?
3. Apa itu Khalayak Media Massa ?
4. Apa itu Aktivitas dan Selektivitas pada Media Massa ?
~ 1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah atau karya tulis ini adalah sebagaimana berikut :
1. Untuk mengetahui  Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak.
2. Untuk mengetahui Jenis – jenis Khalayak.
3. Untuk mengetahui Khalayak Media Massa.
4. Untuk mengetahui Aktivitas dan Selektivitas pada Media Massa.
~ 1.4  Manfaat Penulisan
1. Memberi wawasan Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak.
2. Memberi pengetahuan tentang  Jenis – jenis Khalayak.
3. Memberi cakrawala keilmuan tentang Khalayak pada Media Massa.
4. Memberi pengetahuan kepada pembaca tentang aktivitas dan selektivitas khalayak Media Massa.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak.

2.1.1 Pengertian Khalayak
Istilah khalayak media berlaku universal dan secara sederhana diartikan sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media. Kumpulan ini disebut sebagai khalayak dalam bentuk yang paling dikenalidan versi yag diterapkan dalam hampir seluruh penelitian media itu sendiri. Calusse (1968) menunjukkan beberapa kerumitan untuk membedakan beberapa kadar keikutsertaan dan keterlibatan khalayak.
Khalayak pertama dan tersebar adalah populasi yang tersedia untuk menerima tawaran komunikasi tertentu. Dengan demikian semua yang memiliki pesawat televisi adalah audiens televisi dalam artian tertentu. Khalayak kedua merupakan khalayak yang menerima hal-hal yang ditawarkan dengan kadar yang berbeda-beda seperti pemirsa televisi regular.Khalayak ketiga adalah khalayak yang mencatat penerimaan isi pesan masih dalam bagian lebih kecil yang mengedepankan pesan yang ditawarkan.




2.1.2      Karakteristik Khalayak
Teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung pada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digaris bawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.
Khalayak memiliki pandangan dalam menekankan dari ukuran besar, heterogenitas, penyebaran dan anonimitasnya serta, maka ada tiga perbedaan jenis audiens yaitu:
1. Populasi yang tersedia untuk menerima “tawaran” komunikasi tertentu, dengan demikian semua yang memiliki pesawat televisi adalah audiens televisi dalam arti tertentu.
2. Terdapat audiens yang benar-benar menerima hal-hal yang ditawarkan dengan kadar yang berbeda-beda seperti pemirsa televisi reguler, pembeli surat kabar dan sebagainya.
3. Ada bagian audiens sebenarnya yang mencatat penerima isi dan akhirnya masih ada bagian kecil yang mengendapkan hal-hal yang ditawarkan dan diterima.

2.1.3 Konsep Khalayak
Kata “Khalayak” sangat akrab sebagai istilah kolektif dari ‘penerima’ dalam model urutan  sederhana dari proses komunikasi massa (sumber, saluran, pesan, penerima, efek) yang di buat oleh para pelopor di bidang penelitian media. (Schramm, 1955). Konsep “Khalayak” menunjukkan adanya sekelompok pendengar atau penonton yang memiliki perhatian, reseptif, tetapi relatif pasif yang terkumpul dalam latar yang kurang lebih bersifat publik. Khalayak merupakan produk konteks sosial (yang mengarah pada kepentingan budaya, pemahaman, dan kebutuhan informasi yang sama) serta respons kepada pola pasokan media tertentu.

Nihtingale (2003), mengajukan tipologi baru yang menangkap fitur utama dari keragaman yang baru, menyatakan Empat jenis berikut :
1.) Khalayak sebagai ‘kumpulan orang – orang’. Utamanya, kumpulan ini di ukur ketika menaruh perhatian pada tampilan media atau produk tertentu pada waktu yang ditentukan. Inilah yang dikenal sebagai ‘penonton’.
2.) Khalayak sebagai ‘orang – orang’ yang ditunjukan’. Merujuk pada kelompok orang yang di bayangkan oleh komunikator serta kepada siapa konten dibuat. Hal ini juga diketahui sebagai khalayak yang ‘terlibat’ atau ‘terinterpelasi’.
3.) Khalayak sebagai ‘yang berlangsung’. Pengalaman penerimaan sendirian atau dengan orang lain sebagai peristiwa interaktif dalam kehidupan sehari – hari. Berlangsung dalam konteks tempat atau fitur lain.
4.) Khalayak sebagai ‘pendengar atau audisi’. Utamanya merujuk pada pengalaman khalayak yang berpartisipasi, ketika khalayak ditempelkan di dalam sebuah pertunjukan atau di perbolehkan untuk berpartisipasi melalui alat yang jauh atau memberikan respons di saat yang bersamaan.


2.2    Jenis – Jenis Khalayak.

Khalayak memiliki perbedaan dari aspek khalayak yang suka terhadap tayangan tersebut dan ada yang tidak suka dari tayangan tersebut, maka dari itu khalayak dilihat dari jenis-jenis yang berbeda terhadap media massa (televisi).
Ada empat jenis sumber formasi audiens dari sebuah tripologi yaitu :
1.     Kelompok atau publik
Sejalan dengan suatu pengelompokkan sosial yang ada seperti komunitas, keanggotaan minoritas politis, religious atau etnis dan dengan karakteristik sosial bersama dari tempat, kelas sosial , politik, budaya, dan sebagainya.
2.     Kelompok Kepuasaan
Terbentuk atas dasar tujuan atau kebutuhan individu tertentu yang ada terlepas dari media, tetapi berkaitan misalnya dengan isu sosial, jadi suatu kebutuhan umum akan informasi atau akan kepuasaan emosional dan afektif tertentu.
3.     Kelompok Penggemar atau Budaya Citra Rasa
Terbentuk atas dasar minat pada jenis isi atau gaya atau daya tarik tertentu akan kepribadian tertentu atau citra rasa budaya atau intelektual tertentu.
4.     Audiens Medium
Berasal dari dan dipertahankan oleh kebiasaan atau loyalitas pada sumber media tertentu misalnya surat kabar, majalah, saluran radio,atau televisi.

2.3 Khalayak Media Massa.

Konsep khalayak dalam versi yang ketiga sesuai gambar yang telah ada, merupakan satu yang mengidentifikasi melalui pilihan dari jenis media tertentu, sebagaimana dalam ‘khalayak televisi’ atau publik yang pergi ke bioskop. Pengguna awal seperti itu adalah dalam ekspresi ‘pembacaan publik’, minoritas kecil yang dapat dan membaca buku ketika literasi belum terlalu umum. Rujukannya biasanya adalah mereka yang perilaku atau persepsi dirinya mengidentifikasimereka sebagai ‘pengguna’ yang reguler dan di tarik oleh media yang bersangkutan.

Media dengan penyebaran baru misalnya ‘internet atau multimedia’ yang jenis ini dekat dengan gagasan akan ‘khalayak massa’ sebagaimana yang di gambarkan . Karena sering kali sangat besar, tersebar, dan heterogen, tanpa pengaturan, atu struktur internal. Saat ini sebagian besar khalayak semacam itu sangat tumpang tindih, sehingga dalam hal hubungan terdapat subjektifitas dan frekuensi atau intensitas penggunaan yang relatif. Khalayak terus menerus mebedakan antar media menurut penggunaan sosial dan fungsi tertentu atau menurut anggapan keuntungan dan kerugian masing – masing. Media memiliki gambaran yang cukup penting  (Perse dan Courtraight, 1992).




2.4    Aktivitas dan Selektivitas dalam Media Massa.

2.4.1 Tipologi Aktivitas Audiens
Sejarah penelitian/pembahasan mengenai audiens telah dimulai seiring dengan penelitian tentang efek komunikasi massa. Pada awalnya, audiens dianggap pasif (baca teori peluru (Bullet Theory) atau Model Jarum Hipodermis). Namun pembahasan audiens secara intensif yang dimulai tahun 1940, Herta Herzog, Paul Lazarsfeld dan Frank Stanton (dalam Barran & Davis, 2003) memelopori mempelajari  aktifitas audiens (yang kemudian melahirkan konsep audiens aktif) dan  kepuasan audiens. Misal, pada tahun 1942 Lazarfeld dan Stanton memproduksi buku seri dengan perhatian pada bagaimana audiens menggunakan media untuk mengorganisir pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Tahun 1944 Herzog menulis artikel Motivation and Gratifications of Daily Serial Listener, yang merupakan publikasi awal tentang penelitian kepuasan audiens terhadap media.
Aktifitas audiens merujuk pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1.      Sejauh mana selektivitas audiens terhadap pesan-pesan komunikasi;
2.      Kadar dan jenis motivasi audiens yang menimbulkan penggunaan media;
3.      Penolakan terhadap pengaruh yang tidak diinginkan;
4.      Jenis & jumlah tanggapan(response)  yang diajukan audiens media
(McQuail, 1987).
Pada waktu itu, aktivitas audiens  merupakan fokus kajian uses and gratifications. Secara umum, pandangan para peneliti dalam tradisi uses and gratifications media menganggap bahwa audiens aktif dalam hal kesukarelaan dan orientasi selektif  dalam proses komunikasi massa.
Levy dan Windahl menyusun tipologi aktifitas audiens yang dibentuk melalui dua dimensi. Dua dimensi itu adalah sebagai berikut:
1.)    Dimensi orientasi audiens yang terdiri dari tiga tingkatan :
a.)  Selektivitas terhadap isi media, semakin banyak pilihan semakin selektif dalam pemilihan.

b.)  Keterlibatan (involvement),  mengandung dua arti: 1). Tingkatan dimana audiens menghubungkan dirinya dengan isi media; 2). Suatu tingkatan dimana individu berinteraksi secara psikologis dengan media atau termasuk di dalamnya dengan pesan-pesan media.

c.)  kegunaan (utility), diartikan bahwa individu menggunakan atau mengantisipasi penggunaan komunikasi massa untuk tujuan sosial atau psikologisnya.

         
Angka – angka khalayak dari berbagai media begitu dramatis dan mengesankan, meskipun adakalanya menyesatkan. Khalayak untuk berbagai media memang tumpang – tindih, namun tiap jenis media massa cenderung membidik segmen khalayak yang berbeda – beda. Kalau kita simak lebih mendalam rentetan sebab kompleks yang menentukan khalayak seperti apa yang akan mengerumuni media tertentu, peringkat program siaran, presentase khalayak yang membaca sebuah media, atau jumlah penonton bioskop, ternyata data – data media memang tidak sederhana penampilannya.
Biooca (1998) telah membahas perbedaan makna dan konsep dari aktivitas dan selektivitas khalayak, ada lima versi yang bebeda yang di kemukakan dalam literartur, sebagaimana berikut :
1.     Selektivitas, kita dapat menggambarkan khalayak sebagai aktif, semakin banyak pilihan dan diskriminasi yang terjadi dalam hubungan dengan media serta konten di dalam media. Hal ini biasanya terbukti dalam perencanaan penggunaan media dan dalam pola pemilihan yang konsisten.

2.     Utilitarianisme, disini,  khalayak merupakan  ‘perwujudan dari konsumen’  yang memiliki kepentingan pribadi. Konsumsi media melambangkan kepuasan dari  kebutuhan yang kurang lebih di sadari, semisalnya yang dinyatakan oleh pendekatan ‘uses and gratification’.


3.     Memiliki Tujuan, seorang ‘khalayak aktif’ (active audience) menurut definisi ini adalah mereka yang terlibat dalam pengolahan kognitif aktif dari informasi yang datang dan pengalaman, hal ini sering kali di siratkan oleh berbagai bentuk langganan media.


4.     Kebal terhadap pengaruh, mengikuti alur konsep khalayak yang keras kepala (Bauer,1964) konsep aktivitas disini menekankan batasan yang diatur oleh anggota khalayak untuk tidak menginginkan danya pengaruh atau pembelajaran. Pembaca, penonton, pendengar tetap memegang kendali dan tidak terpengaruh, kecuali sebagaimana yang di tentukan oleh pilihan pribadi.

5.     Keterlibatan, Secara umum, semakin anggota khalayak terlibat atau terjebak dalam pengalaman media yang terus menerus, semakin kita dapat membicarakan mengenai  tanda, misalnya keterlibatan, hal ini dapat juga di sebut sebagai ‘rangsangan afektif’. Keterlibatan juga dapat di indikasi oleh tanda – tanda, misalnya ‘membantah’ kepada televisi.









BAB III
KESIMPULAN

3.1    Kesimpulan
Sebagaimana telah kita lihat, gagasan yang terlihat sederhana mengenai khalayak ternyata cukup rumit juga. Konsep ini di pahami secara berbeda dari sudut pandang yang berbeda. Untuk sebagian besar industri media, khalayak atau mereka yang mengambil perspektif  khalayak , pandangan mengenai  khalayak ini bersifat periferal atau tidak di pahami.  Pengalaman khalayak sebagai peristiwa budaya atau sosial merupakan hasil dari berbagai motif yang berbeda. kemungkinan lain pun dapat  muncul ketika pandangan dari pihak pengirim atau komunikator dalam yang di ambil dalam kaitan tidak menjual layanan tetapi mencoba mengkomunikasikan makna. Khalayak dapat di anggap oleh komunikator dalam kaitannya dengan selera., ketertarikan, kapasitas atau komposisi sosial, dan lokasi mereka.

“DAFTAR PUSTAKA”
Jalaluddin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya
McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga.
William L. Rivers, ET AL, 2008, Media Massa & Masyarakat Modern, ed. 2, Jakarta : Kencana.
Nurudin, 2003, Komunikasi Massa, Malang: CESPUR.
https://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/.
jurnal.kominfo.go.id/index.php/jskm/article/download/12/11.
http://reymonagustamas.blogspot.co.id/


Tugas (Pengantar Ilmu Komunikasi) Universitas Esa Unggul

PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI
“Model Model Komunikasi”


bujp8HWv.png


Nama: Rimon Agustamas
NIM: 20160501049
Prodi: Komunikasi (Paralel)
Dosen: Fajarina



UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2016
·         KOMUNIKASI
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

·         MODEL-MODEL KOMUNIKASI
Dari berbagai model komunikasi yang sudah ada, di sini akan dibahas tiga model paling utama, serta akan dibicarakan pendekatan yang mendasarinya dan bagaimana komunikasi dikonseptualisasikan dalam perkembangannya.

·         Model Komunikasi Linear
Model komunikasi ini dikemukakan oleh  Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication. Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel) Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model).  Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver). Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima.  Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi. Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini selalu ada dalam saluran bersama sebuah pesan yang diterima oleh penerima.

·         Model Interaksional
Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung.  Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.
·         Model Transaksional
Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970. Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi. Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi.  Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.
·         MODEL-MODEL KOMUNIKASI: SUATU PERKENALAN
Komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi telah dibuat oleh para pakar antara lain:
·         Model S – R
Model stimulus – respon (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini depengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan stimulus – respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai aksi reaksi yang sederhana. Bila seorang lelaki berkedip kepada seorang wanita, dan wanita itu kemudian tersipu malu, itulah pola S – R.
Pola S – R dapat pula berlangsung negatif, misalnya orang pertama menata kedua orang dengan tajam, dan kedua orang itu balik menatap, atau menunduk malu, atau malah memberontak.
·         Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar dalam proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).
·         Model Lasswell
Model komunikasi Lasswell berupa ungkapa verbal, yakni:
* Who
* Says What
* In Which Channel
* To Whom
* With What Effect?
Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya alam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Lasswell mengaku bahwa tidak semua komunikasi bersifat dua arah.
Model Lasswell sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Model Lasswell dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.
·         Model Shannon dan Weaver
Model awal komunikasi dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya. Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang mengirim sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver).
Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.
·         Model Schramm
Menurut Wilburg Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu atau suatu organisasi seperti surat kabar, stasiun televisi. Menurut Schramm, setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder. Kita secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut.
·         Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi sebagai perspektif psikologi-sosial. Modelnya menyerupai diagram jaringan kelompok yang dibuat oleh para psikolog sosial dan menyerupai formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut sering juga disebut model ABX atau model simetri Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi terhadap seorang lainnya, B, mengenai sesuatu, X, model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A kepada B dan terhadap X saling bergantung dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1.     Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap tehadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif)
2.     Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3.     Orientasi B terhadap X
4.     Orientasi B terhadap A

2.7.7. Model Berlo
Model ini dikenal dengan model SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber (source) adalah pihak yang menciptakan pesan baik seseorang maupun suatu kelompok.
Pesan (message) adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik seperti bahasa atau isyarat saluran (channel) adalam medium yang membawa pesan dan penerima (receiver) dalam orang yang menjadi sasaran komunikasi.
·         Model DeFleur
Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).
·         Model Tubbs
Menggambarkan komunikasi yang paling mendasar yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi yang mengasumsikan kedua peserta sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Model Tubbs melukiskan baik komunikator satu atau dua terus menerus memperoleh masukan yakni rangsangan baik luar dalam maupun luar dirinya yang sudah berlalu baik yang sudah berlangsung juga semua pengalaman fisik maupun sosial.

3.     FUNGSI DAN MANFAAT KOMUNIKASI


Gordon Wiseman dan Larry Barker, mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyain tiga fungsi:
1.     Melukiskan proses komunikasi,
2.     Menunjukkan hubungan visual,
3.     Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.
Deutsch menyebutkan bahwa model itu mempunyai empat fungsi:
1.     Mengorganisasikan (keniripan data dan hubungan) yang tadinya tidak teramati
2.     Heuristic (menunjukkan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui),
3.     Prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan seberapa banyak,
4.     Pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.

KESIMPULAN
Dari definisi-definisi yang telah dipaparkan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa model komunikasi adalah suatu pola dari pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Selain itu, model komunikasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.     untuk menggambarkan proses komunikasi
2.     menjelaskan alur komunikasi secara visual
3.     membantu dalam menemukan kemacetan komunikasi
·         SARAN
Semoga, dengan mempelajari Pembahasan ini bisa menambah wawasan kita untuk lebih mengerti, memahami Model-Model dan fungsi Komunikasi.