Makalah (Khalayak) Massa
PENGANTAR
ILMU KOMUNIKASI

Disusun
Oleh:
Stella
Yosi (2016
Nomo
Prasetyo (2016
Rimon
Agustamas (20160501049)
Dosen
: FAJARINA
Universitas
Esa Unggul
2016
DAFTAR ISI
Halaman Judul
1
Daftar Isi 2
Kata Pengantar
3
Bab I Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
4
1.2
Rumusan Masalah 6
1.3
Tujuan Penulisan
6
1.4
Manfaat Penulisan 6
Bab II
Pembahasan
2.1
Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak 7
2.2
Jenis – jenis Khalayak 10
2.3
Khalayak Media
11
2.4
Aktivitas dan Selektivitas 12
Bab III Penutup
3.1
Kesimpulan
16
Daftar Pustaka
17
KATA PENGANTAR
Pertama kami panjatkan puji syukur
atas rahmat dan ridho Allah SWT, karena tanpa rahmat dan ridho-Nya, kami tidak
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat waktu. Kedua,
Sholawat serta salam sejahtera senantiasa kami curahkan keharibaan baginda Nabi
Muhammad SAW. Karena dengan perantara beliaulah kita kemudian dikenalkan dengan
ilmu pengetahuan.
Sahabat-sahabat yang
dirahmati Allah SWT.
Tugas pembuatan makalah
yang berjudul “Audience Komunikasi Massa” yang diberikan oleh dosen pengampu
selaku fasilitator yang memfasilitasi kegiatan perkuliahan mahasiswa,
diorientasikan sebagai pembangun ilmu pengetahuan dan pemberdayaan mahasiswa
untuk mengkaji lebih detailnya tentang Komunikasi Massa utamanya Khalayak pada
Media Massa dan apa apa yang terkandung di dalamnya.
Mungkin cukup sekian
pengantar dari kami dan kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
perlunya kritik dan saran yang membangun supaya kami bisa lebih baik kemudian
nya, apabila ada kesalahan peyampaian atau penulisan mohon maaf yang
sebesar-besarnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan juga bisa di jadikan
referensi kajian studi dalam bidang ini. Jazakumullahu khoiron katsiro
Bekasi,
25/10/2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai basis
masyarakat (the basis of society) (De Fleur dan Rokeach 1982, 117; Rivers,
Jensen dan Peterson 2003, 33), dalam kenyataan proses komunikasi antarmanusia
itu terjadi dalam beberapa konteks atau level (Lihat, Infante, Rancer dan
Womack 1990, 124-127; Littlejohn 2005, 11. Satu di antara level dan termasuk
yang paling kompleks (lihat, De Fleur & Rokeach 1982, 8), sehubungan dalam
prosesnya tercakup banyak aspek interpersonal, kelompok, publik dan komunikasi
organisasi, yaitu level mass (massa).
Dalam aplikasinya,
berlangsungnya komunikasi dalam konteks massa tersebut dilakukan dengan atau
tanpa media. Namun, seperti dikatakan Littlejohn, biasanya ini dilakukan dengan
memanfaatkan media. Terkait dengan pemanfaatannya, maka ada yang melalui media
elektronik (televisi,radio), cetak (press, misal surat kabar,majalah) dan
belakangan ada yang melalui media on line.
Dari sejumlah komponen
itu, diketahui bahwa komponen audience diidentifikasi sebagai salah satu
komponen (baca : variabel yang mempengaruhi enkoding media) utama yang sangat
rumit dalam sistem sosial komunikasi massa. Kerumitan mana, berdasarkan studi
bertahun-tahun para ilmuwan sosial, itu karena khalayak sifatnya yang
berjenjang, berbeda-beda dan saling berkaitan melalui banyak cara. Terkait dengan
ini, dijelaskan oleh De Fleur & Rokeach (1982, 174) bahwa, “Beberapa
variabel utama yang berperan dalam menentukan bagaimana komponen ini beroperasi
dalam sistem ini adalah kebutuhan utama dan kepentingan angota khalayak, ragam
kategori-kategori sosial yang direpresentasikan dalam khalayak, dan
karakteristik hubungan sosial antara khalayak. Variabel ini menunjukkan
mekanisme perilaku yang menentukan pola perhatian, penafsiran, dan respon
khalayak berkaitan isi dari jenis tertentu”.
Dalam konteks hubungan
sebagaimana dipaparkan barusan, para akademisi sendiri sebenarnya telah
berupaya menjelaskan fenomenanya secara ilmiah. Dari hasil-hasil studi para
akademisi, maka dibuatlah sejumlah model yang menjelaskan hubungan tadi. Dari
model-model yang dihasilkan telah memunculkan sejumlah teori yang dikelompokkan
ke dalam the audience theory. Audience theory atau teori tentang khalayak
sendiri yaitu suatu teori yang mencoba menjelaskan bagaimana seorang khalayak
menerima, membaca dan merespon sebuah teks.
Lalu kenapa khalayak
bisa aktif? Pertanyaan itu coba dijawab oleh Wilbur Schramm yang menyatakan
seseorang membuat pilihan media dan kontennya berdasarkan pengharapan atas
imbalan terhadap usaha yang dibutuhkan. Artinya penonton (khalayak) yang
menentukan tayangan apa yang hendak ia saksikan. Tidak seperti era terdahulu
yang ingin mempelajari macam-macam efek media baik positif dan negatif, uses
and gratification ingin mempelajarai aktivitas khalayak. Pendekatan ini ingin
mengetahui kenapa banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu dalam
menggunakan media massa.
~ 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat dirumuskan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa itu Pengertian,
Karakteristik, dan Konsep Khalayak ?
2. Apa Jenis – jenis
Khalayak ?
3. Apa itu Khalayak
Media Massa ?
4. Apa itu Aktivitas
dan Selektivitas pada Media Massa ?
~ 1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan
makalah atau karya tulis ini adalah sebagaimana berikut :
1. Untuk
mengetahui Pengertian, Karakteristik,
dan Konsep Khalayak.
2. Untuk mengetahui
Jenis – jenis Khalayak.
3. Untuk mengetahui
Khalayak Media Massa.
4. Untuk mengetahui
Aktivitas dan Selektivitas pada Media Massa.
~ 1.4 Manfaat Penulisan
1. Memberi wawasan
Pengertian, Karakteristik, dan Konsep Khalayak.
2. Memberi pengetahuan
tentang Jenis – jenis Khalayak.
3. Memberi cakrawala
keilmuan tentang Khalayak pada Media Massa.
4. Memberi pengetahuan
kepada pembaca tentang aktivitas dan selektivitas khalayak Media Massa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Karakteristik, dan Konsep
Khalayak.
2.1.1 Pengertian
Khalayak
Istilah khalayak media
berlaku universal dan secara sederhana diartikan sekumpulan orang yang menjadi
pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media. Kumpulan ini disebut sebagai
khalayak dalam bentuk yang paling dikenalidan versi yag diterapkan dalam hampir
seluruh penelitian media itu sendiri. Calusse (1968) menunjukkan beberapa
kerumitan untuk membedakan beberapa kadar keikutsertaan dan keterlibatan
khalayak.
Khalayak pertama dan
tersebar adalah populasi yang tersedia untuk menerima tawaran komunikasi tertentu.
Dengan demikian semua yang memiliki pesawat televisi adalah audiens televisi
dalam artian tertentu. Khalayak kedua merupakan khalayak yang menerima hal-hal
yang ditawarkan dengan kadar yang berbeda-beda seperti pemirsa televisi
regular.Khalayak ketiga adalah khalayak yang mencatat penerimaan isi pesan
masih dalam bagian lebih kecil yang mengedepankan pesan yang ditawarkan.
2.1.2 Karakteristik Khalayak
Teori uses and
gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung pada
informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan
khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media
massa. Namun perlu digaris bawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan
yang sama terhadap semua media.
Khalayak memiliki
pandangan dalam menekankan dari ukuran besar, heterogenitas, penyebaran dan
anonimitasnya serta, maka ada tiga perbedaan jenis audiens yaitu:
1. Populasi yang
tersedia untuk menerima “tawaran” komunikasi tertentu, dengan demikian semua
yang memiliki pesawat televisi adalah audiens televisi dalam arti tertentu.
2. Terdapat audiens
yang benar-benar menerima hal-hal yang ditawarkan dengan kadar yang
berbeda-beda seperti pemirsa televisi reguler, pembeli surat kabar dan
sebagainya.
3. Ada bagian audiens
sebenarnya yang mencatat penerima isi dan akhirnya masih ada bagian kecil yang
mengendapkan hal-hal yang ditawarkan dan diterima.
2.1.3 Konsep Khalayak
Kata “Khalayak” sangat
akrab sebagai istilah kolektif dari ‘penerima’ dalam model urutan sederhana dari proses komunikasi massa
(sumber, saluran, pesan, penerima, efek) yang di buat oleh para pelopor di
bidang penelitian media. (Schramm, 1955). Konsep “Khalayak” menunjukkan adanya
sekelompok pendengar atau penonton yang memiliki perhatian, reseptif, tetapi
relatif pasif yang terkumpul dalam latar yang kurang lebih bersifat publik.
Khalayak merupakan produk konteks sosial (yang mengarah pada kepentingan
budaya, pemahaman, dan kebutuhan informasi yang sama) serta respons kepada pola
pasokan media tertentu.
Nihtingale (2003),
mengajukan tipologi baru yang menangkap fitur utama dari keragaman yang baru,
menyatakan Empat jenis berikut :
1.) Khalayak sebagai
‘kumpulan orang – orang’. Utamanya, kumpulan ini di ukur ketika menaruh
perhatian pada tampilan media atau produk tertentu pada waktu yang ditentukan.
Inilah yang dikenal sebagai ‘penonton’.
2.) Khalayak sebagai
‘orang – orang’ yang ditunjukan’. Merujuk pada kelompok orang yang di bayangkan
oleh komunikator serta kepada siapa konten dibuat. Hal ini juga diketahui
sebagai khalayak yang ‘terlibat’ atau ‘terinterpelasi’.
3.) Khalayak sebagai
‘yang berlangsung’. Pengalaman penerimaan sendirian atau dengan orang lain
sebagai peristiwa interaktif dalam kehidupan sehari – hari. Berlangsung dalam
konteks tempat atau fitur lain.
4.) Khalayak sebagai
‘pendengar atau audisi’. Utamanya merujuk pada pengalaman khalayak yang
berpartisipasi, ketika khalayak ditempelkan di dalam sebuah pertunjukan atau di
perbolehkan untuk berpartisipasi melalui alat yang jauh atau memberikan respons
di saat yang bersamaan.
2.2 Jenis – Jenis Khalayak.
Khalayak memiliki
perbedaan dari aspek khalayak yang suka terhadap tayangan tersebut dan ada yang
tidak suka dari tayangan tersebut, maka dari itu khalayak dilihat dari
jenis-jenis yang berbeda terhadap media massa (televisi).
Ada empat jenis sumber
formasi audiens dari sebuah tripologi yaitu :
1. Kelompok atau publik
Sejalan dengan suatu
pengelompokkan sosial yang ada seperti komunitas, keanggotaan minoritas
politis, religious atau etnis dan dengan karakteristik sosial bersama dari
tempat, kelas sosial , politik, budaya, dan sebagainya.
2. Kelompok Kepuasaan
Terbentuk atas dasar
tujuan atau kebutuhan individu tertentu yang ada terlepas dari media, tetapi
berkaitan misalnya dengan isu sosial, jadi suatu kebutuhan umum akan informasi
atau akan kepuasaan emosional dan afektif tertentu.
3. Kelompok Penggemar atau Budaya Citra Rasa
Terbentuk atas dasar
minat pada jenis isi atau gaya atau daya tarik tertentu akan kepribadian
tertentu atau citra rasa budaya atau intelektual tertentu.
4. Audiens Medium
Berasal dari dan
dipertahankan oleh kebiasaan atau loyalitas pada sumber media tertentu misalnya
surat kabar, majalah, saluran radio,atau televisi.
2.3 Khalayak Media
Massa.
Konsep khalayak dalam
versi yang ketiga sesuai gambar yang telah ada, merupakan satu yang
mengidentifikasi melalui pilihan dari jenis media tertentu, sebagaimana dalam
‘khalayak televisi’ atau publik yang pergi ke bioskop. Pengguna awal seperti
itu adalah dalam ekspresi ‘pembacaan publik’, minoritas kecil yang dapat dan
membaca buku ketika literasi belum terlalu umum. Rujukannya biasanya adalah
mereka yang perilaku atau persepsi dirinya mengidentifikasimereka sebagai
‘pengguna’ yang reguler dan di tarik oleh media yang bersangkutan.
Media dengan penyebaran
baru misalnya ‘internet atau multimedia’ yang jenis ini dekat dengan gagasan
akan ‘khalayak massa’ sebagaimana yang di gambarkan . Karena sering kali sangat
besar, tersebar, dan heterogen, tanpa pengaturan, atu struktur internal. Saat
ini sebagian besar khalayak semacam itu sangat tumpang tindih, sehingga dalam
hal hubungan terdapat subjektifitas dan frekuensi atau intensitas penggunaan
yang relatif. Khalayak terus menerus mebedakan antar media menurut penggunaan
sosial dan fungsi tertentu atau menurut anggapan keuntungan dan kerugian masing
– masing. Media memiliki gambaran yang cukup penting (Perse dan Courtraight, 1992).
2.4 Aktivitas dan Selektivitas dalam Media
Massa.
2.4.1 Tipologi
Aktivitas Audiens
Sejarah
penelitian/pembahasan mengenai audiens telah dimulai seiring dengan penelitian
tentang efek komunikasi massa. Pada awalnya, audiens dianggap pasif (baca teori
peluru (Bullet Theory) atau Model Jarum Hipodermis). Namun pembahasan audiens
secara intensif yang dimulai tahun 1940, Herta Herzog, Paul Lazarsfeld dan
Frank Stanton (dalam Barran & Davis, 2003) memelopori mempelajari aktifitas audiens (yang kemudian melahirkan
konsep audiens aktif) dan kepuasan
audiens. Misal, pada tahun 1942 Lazarfeld dan Stanton memproduksi buku seri
dengan perhatian pada bagaimana audiens menggunakan media untuk mengorganisir
pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Tahun 1944 Herzog menulis artikel
Motivation and Gratifications of Daily Serial Listener, yang merupakan
publikasi awal tentang penelitian kepuasan audiens terhadap media.
Aktifitas audiens
merujuk pada pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Sejauh mana selektivitas audiens terhadap
pesan-pesan komunikasi;
2. Kadar dan jenis motivasi audiens yang
menimbulkan penggunaan media;
3. Penolakan terhadap pengaruh yang tidak
diinginkan;
4. Jenis & jumlah
tanggapan(response) yang diajukan
audiens media
(McQuail,
1987).
Pada
waktu itu, aktivitas audiens merupakan
fokus kajian uses and gratifications. Secara umum, pandangan para peneliti
dalam tradisi uses and gratifications media menganggap bahwa audiens aktif
dalam hal kesukarelaan dan orientasi selektif
dalam proses komunikasi massa.
Levy dan Windahl
menyusun tipologi aktifitas audiens yang dibentuk melalui dua dimensi. Dua
dimensi itu adalah sebagai berikut:
1.) Dimensi orientasi audiens yang terdiri dari
tiga tingkatan :
a.) Selektivitas terhadap isi media, semakin
banyak pilihan semakin selektif dalam pemilihan.
b.) Keterlibatan (involvement), mengandung dua arti: 1). Tingkatan dimana
audiens menghubungkan dirinya dengan isi media; 2). Suatu tingkatan dimana
individu berinteraksi secara psikologis dengan media atau termasuk di dalamnya
dengan pesan-pesan media.
c.) kegunaan (utility), diartikan bahwa individu
menggunakan atau mengantisipasi penggunaan komunikasi massa untuk tujuan sosial
atau psikologisnya.
Angka – angka khalayak
dari berbagai media begitu dramatis dan mengesankan, meskipun adakalanya
menyesatkan. Khalayak untuk berbagai media memang tumpang – tindih, namun tiap
jenis media massa cenderung membidik segmen khalayak yang berbeda – beda. Kalau
kita simak lebih mendalam rentetan sebab kompleks yang menentukan khalayak
seperti apa yang akan mengerumuni media tertentu, peringkat program siaran,
presentase khalayak yang membaca sebuah media, atau jumlah penonton bioskop,
ternyata data – data media memang tidak sederhana penampilannya.
Biooca (1998) telah
membahas perbedaan makna dan konsep dari aktivitas dan selektivitas khalayak,
ada lima versi yang bebeda yang di kemukakan dalam literartur, sebagaimana
berikut :
1. Selektivitas, kita dapat menggambarkan
khalayak sebagai aktif, semakin banyak pilihan dan diskriminasi yang terjadi
dalam hubungan dengan media serta konten di dalam media. Hal ini biasanya
terbukti dalam perencanaan penggunaan media dan dalam pola pemilihan yang
konsisten.
2. Utilitarianisme, disini, khalayak merupakan ‘perwujudan dari konsumen’ yang memiliki kepentingan pribadi. Konsumsi
media melambangkan kepuasan dari
kebutuhan yang kurang lebih di sadari, semisalnya yang dinyatakan oleh
pendekatan ‘uses and gratification’.
3. Memiliki Tujuan, seorang ‘khalayak aktif’
(active audience) menurut definisi ini adalah mereka yang terlibat dalam
pengolahan kognitif aktif dari informasi yang datang dan pengalaman, hal ini
sering kali di siratkan oleh berbagai bentuk langganan media.
4. Kebal terhadap pengaruh, mengikuti alur
konsep khalayak yang keras kepala (Bauer,1964) konsep aktivitas disini
menekankan batasan yang diatur oleh anggota khalayak untuk tidak menginginkan
danya pengaruh atau pembelajaran. Pembaca, penonton, pendengar tetap memegang
kendali dan tidak terpengaruh, kecuali sebagaimana yang di tentukan oleh
pilihan pribadi.
5. Keterlibatan, Secara umum, semakin anggota
khalayak terlibat atau terjebak dalam pengalaman media yang terus menerus,
semakin kita dapat membicarakan mengenai
tanda, misalnya keterlibatan, hal ini dapat juga di sebut sebagai
‘rangsangan afektif’. Keterlibatan juga dapat di indikasi oleh tanda – tanda,
misalnya ‘membantah’ kepada televisi.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Sebagaimana telah kita
lihat, gagasan yang terlihat sederhana mengenai khalayak ternyata cukup rumit
juga. Konsep ini di pahami secara berbeda dari sudut pandang yang berbeda.
Untuk sebagian besar industri media, khalayak atau mereka yang mengambil
perspektif khalayak , pandangan
mengenai khalayak ini bersifat periferal
atau tidak di pahami. Pengalaman
khalayak sebagai peristiwa budaya atau sosial merupakan hasil dari berbagai
motif yang berbeda. kemungkinan lain pun dapat
muncul ketika pandangan dari pihak pengirim atau komunikator dalam yang
di ambil dalam kaitan tidak menjual layanan tetapi mencoba mengkomunikasikan
makna. Khalayak dapat di anggap oleh komunikator dalam kaitannya dengan
selera., ketertarikan, kapasitas atau komposisi sosial, dan lokasi mereka.
“DAFTAR PUSTAKA”
Jalaluddin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi,
Bandung: Remaja Rosdakarya
McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2,
Jakarta: Erlangga.
William L. Rivers, ET AL, 2008, Media Massa &
Masyarakat Modern, ed. 2, Jakarta : Kencana.
Nurudin, 2003, Komunikasi Massa, Malang: CESPUR.
https://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/.
jurnal.kominfo.go.id/index.php/jskm/article/download/12/11.
http://reymonagustamas.blogspot.co.id/
