Nama : Rimon Agustamas
Npm: 01-14-044
Kelas: B Semester 4
Komunikasi
Bukan Cinta Biasa (
cerpen siviel )
Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hati yang terdalam
Sungguh Aku cinta
padamu…..
Gabriel tidak berhenti tersenyum sembari menatap gadis yang ia sayangi. Ia
melihat gadis itu tengah tersenyum lepas sambil bercanda dengan teman-temannya.
Entah kenapa setiap memandang senyum gadis itu hatinya berdesir hebat, rasanya
ia melayang.
“ Hei !! Pasti
ngelihatin Sivia lagi kan ?” Ify sahabatnya menepuk pundaknya dan langsung
duduk di sebelah Gabriel. Gabriel hanya tersenyum sambil memandang Ify.
“ Aku gak pernah bosen
mandang wajah dan senyumnya.” kata Gabriel, matanya kembali menatap Sivia yang
masih asyik bercanda gurau.
“ Aku tau aku tau, kamu
selalu mengatakan hal itu lebih dari 5 kali sehari.” Gabriel hanya nyengir
mendengar penuturan Ify. Memang benar, setiap hari ia selalu memuji senyum
Sivia. Karena senyum itu memang pantas dipuji.
“ Kenapa kamu gak nyoba
deket aja sama dia ? Dia kan ramah banget ?” tanya Ify.
“ Lo gak takut kan ?”
Ify mengangkat alisnya, ia sedang meremehkan Gabriel.
“ Takut ?? Gak tuh..”
balas Gabriel cepat.
“ Lalu, kenapa selama
setahun ini kamu betah dengan cuma mandang senyumnyaaja?” tanya Ify, dahinya
berkerut, bingung dengan sikap sahabatnya ini.
“ Karena aku malu..”
“ Hahahahahaha…” Ify
tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Gabriel. Gabriel hanya melengos
sebal. Ia sudah menebak jadinya akan seperti ini, jika ia berkata seperti itu
pada Ify.
“ Masa kapten basket
malu ngedeketin cewek. Gak banget deh.” ejek Ify, Gabriel semakin manyun
dibuatnya.
“ Aku pernah bicara
dengannya. Dan asal kamu tau, aku merasa aneh tiap bicara dengannya. Hatiku
selalu bergetar dan rasanya mulutku terkunci rapat.” tutur Gabriel.
“ Mungkin itu yang
namanya cinta sejati.”
“ Mungkin….”
><><><><><><><><><
Senyum tak lepas dari wajah Gabriel. Hari ini ia benar-benar merasa bahagia.
Hari ini ia bicara dengan Sivia. Walau hanya bicara, rasa senang tak pernah
meninggalkan hatinya. Itulah rasanya jatuh cinta.
*** Flashback ***
Gabriel sedang berjalan di koriodor sambil memainkan bola basketnya. Entah
kenapa hari ini senyum tidak bisa lepas dari bibirnya. Ia sendiri
tidak tau apa yang akan terjadi hingga ia sebahagia ini. Tapi secara tiba-tiba
bola basket yang sedang ia mainkan lepas dan menggeliding ke arah seseorang.
Parahnya, gadis itu tetap berjalan tanpa melihat bola basket yang ada di
depannya.
“ Siviaaa awasss…”
terlambat, Sivia sudah jatuh tersungkur di koridor. Dengan cepat Gabriel segera
berlari menghampiri Sivia.
“ Sivia, kamu tidak
apa-apa kan ?” tanya Gabriel. Sivia masih diam, pelan ia melihat Sivia
menggerakkan tubuhnya dan mulai duduk di lantai. Wajahnya masih
tertunduk.
“ Gak apa-apa kok.”
Kali ini Sivia mendongak, menatap siapa yang membuatnya terjatuh.
“ Gabriel..” lirihnya.
“ Iya, sorry tadi bola
basketnya lepas dari tangan aku.” Gabriel menunjukkan wajah bersalahnya di
hadapan Sivia, Sivia pun tersenyum dan mengangguk.
“ Lain kali kalau mau
main bola basket jangan di koridor. Oh iya ternyata, kamu masih ingat aku.”
Tutur Sivia, Gabriel sendiri hanya berkerut bingung.
“ Itu, dulu kan aku
pernah nyapa kamu tapi gak kamu balas. Aku kira kamu lupa sama aku.” Sivia tetap
tersenyum sambil menatap Gabriel.
“ Bukannya lupa, tapi
aku terlalu gugup hanya untuk sekedar membalas sapaanmu.” batin Gabriel sambil
menatap senyum di wajah Sivia.
“ Ehh., emang iya.”
Gabriel berpura-pura tidak tau.
“ Ohh, mungkin kamu
tidak melihatku.” Tutur Sivia, ia mencoba kini berdiri.
Dengan reflek Gabriel,
mengulurkan tangannya. Sivia sendiri menerima uluran tangan Gabriel dengan
senang hati. Pelan ia gunakan tangan Gabriel sebagai pegangan untuk berdiri.
“ Terima kasih Gab.”
Sivia memberikan senyum tulusnya untuk Gabriel. Senyum yang selalu membuat hati
Gabriel berdesir hebat.
“ Sama-sama..” balas
Gabriel dengan agak gugup. Matanya mulai memandang wajah cantik Sivia.
Pelan tangannya bergerak membenarkan jepit rambut Sivia yang turun. Sivia
sendiri tersipu malu dengan perlakuan manis Gabriel.
“ Terima kasih lagi.
Assalamu alaikum.” Sivia pergi meninggalkan Gabriel yang masih terdiam di
tempatnya. Gabriel tidak menjawab salam dari Sivia, ia tidak tau bagaimana
harus menjawabnya.
*** Flashback End ***