Selasa, 24 Mei 2016

Cerpen "Cinta Tidak Biasa"

Nama : Rimon Agustamas
Npm: 01-14-044
Kelas: B Semester 4 Komunikasi



Bukan Cinta Biasa ( cerpen siviel )

Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hati yang terdalam
Sungguh Aku cinta padamu…..


                Gabriel tidak berhenti tersenyum sembari menatap gadis yang ia sayangi. Ia melihat gadis itu tengah tersenyum lepas sambil bercanda dengan teman-temannya. Entah kenapa setiap memandang senyum gadis itu hatinya berdesir hebat, rasanya ia melayang.
“ Hei !! Pasti ngelihatin Sivia lagi kan ?” Ify sahabatnya menepuk pundaknya dan langsung duduk di sebelah Gabriel. Gabriel hanya tersenyum sambil memandang Ify.

“ Aku gak pernah bosen mandang wajah dan senyumnya.” kata Gabriel, matanya kembali menatap Sivia yang masih asyik bercanda gurau.

“ Aku tau aku tau, kamu selalu mengatakan hal itu lebih dari 5 kali sehari.” Gabriel hanya nyengir mendengar penuturan Ify. Memang benar, setiap hari ia selalu memuji senyum Sivia. Karena senyum itu memang pantas dipuji.

“ Kenapa kamu gak nyoba deket aja sama dia ? Dia kan ramah banget ?” tanya Ify.
“ Lo gak takut kan ?” Ify mengangkat alisnya, ia sedang meremehkan Gabriel.

“ Takut ?? Gak tuh..” balas Gabriel cepat.
“ Lalu, kenapa selama setahun ini kamu betah dengan cuma mandang senyumnyaaja?” tanya Ify, dahinya berkerut, bingung dengan sikap sahabatnya ini.

“ Karena aku malu..”
“ Hahahahahaha…” Ify tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Gabriel. Gabriel hanya melengos sebal. Ia sudah menebak jadinya akan seperti ini, jika ia berkata seperti itu pada Ify.

“ Masa kapten basket malu ngedeketin cewek. Gak banget deh.” ejek Ify, Gabriel semakin manyun dibuatnya.

“ Aku pernah bicara dengannya. Dan asal kamu tau, aku merasa aneh tiap bicara dengannya. Hatiku selalu bergetar  dan rasanya mulutku terkunci rapat.” tutur Gabriel.
“ Mungkin itu yang namanya cinta sejati.”

“ Mungkin….”

><><><><><><><><>< 


                Senyum tak lepas dari wajah Gabriel. Hari ini ia benar-benar merasa bahagia. Hari ini ia bicara dengan Sivia. Walau hanya bicara, rasa senang tak pernah meninggalkan hatinya. Itulah rasanya jatuh cinta.

*** Flashback ***
                Gabriel sedang berjalan di koriodor sambil memainkan bola basketnya. Entah kenapa hari ini senyum tidak bisa lepas dari bibirnya. Ia sendiri tidak tau apa yang akan terjadi hingga ia sebahagia ini. Tapi secara tiba-tiba bola basket yang sedang ia mainkan lepas dan menggeliding ke arah seseorang. Parahnya, gadis itu tetap berjalan tanpa melihat bola basket yang ada di depannya.

“ Siviaaa awasss…” terlambat, Sivia sudah jatuh tersungkur di koridor. Dengan cepat Gabriel segera berlari menghampiri Sivia.

“ Sivia, kamu tidak apa-apa kan ?” tanya Gabriel. Sivia masih diam, pelan ia melihat Sivia menggerakkan tubuhnya dan mulai duduk di lantai. Wajahnya masih tertunduk.

“ Gak apa-apa kok.” Kali ini Sivia mendongak, menatap siapa yang membuatnya terjatuh.
“ Gabriel..” lirihnya.

“ Iya, sorry tadi bola basketnya lepas dari tangan aku.” Gabriel menunjukkan wajah bersalahnya di hadapan Sivia, Sivia pun tersenyum dan mengangguk.
“ Lain kali kalau mau main bola basket jangan di koridor. Oh iya ternyata, kamu masih ingat aku.” Tutur Sivia, Gabriel sendiri hanya berkerut bingung.

“ Itu, dulu kan aku pernah nyapa kamu tapi gak kamu balas. Aku kira kamu lupa sama aku.” Sivia tetap tersenyum sambil menatap Gabriel.
“ Bukannya lupa, tapi aku terlalu gugup hanya untuk sekedar membalas sapaanmu.” batin Gabriel sambil menatap senyum di wajah Sivia.

“ Ehh., emang iya.” Gabriel berpura-pura tidak tau.
“ Ohh, mungkin kamu tidak melihatku.” Tutur Sivia, ia mencoba kini berdiri.

Dengan reflek Gabriel, mengulurkan tangannya. Sivia sendiri menerima uluran tangan Gabriel dengan senang hati. Pelan ia gunakan tangan Gabriel sebagai pegangan untuk berdiri.

“ Terima kasih Gab.” Sivia memberikan senyum tulusnya untuk Gabriel. Senyum yang selalu membuat hati Gabriel berdesir hebat.
“ Sama-sama..” balas Gabriel dengan agak gugup. Matanya mulai memandang wajah cantik Sivia.
                Pelan tangannya bergerak membenarkan jepit rambut Sivia yang turun. Sivia sendiri tersipu malu dengan perlakuan manis Gabriel.
“ Terima kasih lagi. Assalamu alaikum.” Sivia pergi meninggalkan Gabriel yang masih terdiam di tempatnya. Gabriel tidak menjawab salam dari Sivia, ia tidak tau bagaimana harus menjawabnya.

*** Flashback End ***